KERAMAHAN PENDIDIKAN PESANTREN MENJADIKANNYA UNGGUL

KERAMAHAN PENDIDIKAN PESANTREN MENJADIKANNYA UNGGUL

Disusun oleh : Nadia.Nurfitri.Fathonaty

Nominator Lomba Essay Tingkat Nasional

            Pondok pesantren sering kali disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan yang baik,  juga tidak lain sebagai pembinaan akhlak. Penilaian masyarakat tentang pondok pesantren yang  ‘’katanya’’ mendalami keagamaan dianggap baik. Secara garis besar penilaian masyarakat tentang pondok pesantren mendapat asupan positif. Tetapi diselingan asupan positif itu menjadikan kesalahpahaman pengertian. Realisasinya dalam kehidupan kita, banyak para orang tua memasukkan buah hati mereka ke pondok pesantren dengan alasan sudah tidak bisa mengendalikan kenakalan mereka, dengan bahasa kasarnya bukan lagi ‘’menitipkan’’ buah hati mereka agar mendapatkan ilmu dan pembinaan akhlak yang baik, melainkan kali ini dapat didefinisikan sebagai ’’tempat pembuangan’’ anak-anak  ’’nakal’’. Haruskah ada pikiran yang seperti itu ???. Ini adalah pemikiran yang memang seharusnya dihindarkan. Secara tidak langsung, pemikiran seperti ini sudah menurunkan nama tinggi pondok pesantren.

Nah… apakah dengan ini pesantren sekarang sudah berfikir tentang apa yang akan dilakukan ditengah atmosfer kehidupan dan apa kontribusi yang akan disumbangkan untuk kepribadian bangsa. Dunia pesantren yang nyaris dipahami oleh masyarakat adalah sebuah lingkungan yang tidak jauh dari keagamaan/religious, yakni tentang agama islam. Sementara terdapat sejumlah teori yang menjelaskan asal-usul kata santri, pertama berasal dari kata sastri, bahasa sansakerta yang artinya melek huruf. Kedua, berasal dari cantrik, yang berarti seseorang yang selalu mengikuti guru ke mana guru pergi menetap([1]). Ketiga, berasal dari bahasa India yang bermakna orang yang tahu buku-buku suci

agama Hindu atau ilmu pengetahuan([2]). Sedangkan kata pondok berasal dari bahasa Arab funduk yang berarti asrama, rumah, hotel atau tempat tinggal sederhana. (3) Secara umum, sebagian besar teori yang menjelaskan epistemologi pesantren selalu bersifat physical oriented. Teori-teori tersebut umumnya menyebut integrasi 5 elemen pokok pesantren. Yaitu (1) Kiyai, (2) Santri, (3) Masjid, (4) Pondok, dan (5) Pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Padahal secara factual, sesungguhnya kehidupan pesantren memiliki keragaman dan dinamika yang sangat variatif sejalan dengan setting sosial budaya masyarakat tempat pesantren berada. Di sebagian besar tempat, bisa jadi kelima unsur pesantren itu terpenuhi, namun di sebagaian daerah bisa jadi salah-satu atau dua unsur tersebut tidak terpenuhi. Apakah dengan demikian tempat ini tidak layak disebut pesantren ?. Atau barangkali telah terjadi kesalahan metodologis dalam merumuskan epistemologi pesantren ?.(4)

Imam Zarkasyi (pendiri pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo) mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan islam dengan sistem asrama atau pondok, dimana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.(5)

Bila dikaitkan dengan judul, ‘’Keramahan pendidikan pesantren menjadikannya unggul‘’. Bahwa pesantren mempunyai daya potensi besar yang baik dalam kiprah dunia pendidikan. Yang mana pendidikan tersebut bertujuan untuk memperbaharui kerusakan akhlak yang merubah dunia kita. Secara singkat dikatakan

 

bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga yang berkiprah di dunia pendidikan sebagai perubah akhlak atau bisa juga disebut sebagai pembinaan akhlak.

Cover pesantren yang menunjukkan sikap dan perilaku keagamaan yang kuat menjadi salah satu pilihan banyak orang tua memasukkan buah hatinya ke dunia pesantren. Harapan para orang tua dengan memasukkan para buah hati mereka ke pesantren agar dapat menginstal perilaku yang baik, layaknya perilaku mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.S.A.W. Dan juga menjadikannya berkompeten disegala bidang. Selain kedudukannya sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan, pondok pesantren juga berperan dalam lembaga dakwah agama islam. Kembali kepada tujuan awal yakni membina akhlak. Sebagai realisasi dalam kehidupan sekarang, kita dapat melihat dari dunia politik Indonesia yang kini di jajah oleh penjajah yang bernama ‘’Koruptor’’. Mereka yang duduk dalam kursi petinggi disana perlu dibina akhlaknya. Mengapa saya mengatakan demikian ??? Memang karena para petinggi disana lebih mengandalkan otak dan omongan yang belum tentu benar saja, tidak melihat dan berfikir sebelum bertindak, dalam konteks arabnya lebih dikenal dengan ‘’fakkir qabla ‘an ta’zima’’. Maka dari itu pondok pesantren sebagai satu alat produksi terbaik dalam hal pembinaaan akhlak dan pembentukan karakter serta tidak meninggalkan unsur-unsur ilmu umum (bersifat duniawi). Untuk mencetak generasi-generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah dan berwawasan luas, tidak hanya pintar bidang institut keduniawian melainkan lebih condong ke pembinaan akhlak, dan yang pasti tanpa meninggalkan unsur ilmu IPTEK dan umum.

Berkenaan dengan tujuan pendidikan pesantren, bagi pesantren-pesantren baru yang lebih modern biasanya telah merumuskan tujuannya dalam bentuk visi dan misi pesantren, rumusan biasanya sekitar hal-hal berikut :

Membangun masyarakat melalui pendidikan

Dakwah islamiyah

Mempersiapkan generasi muda muslim dengan membekali mereka pengetahuan agama dan umum, seperti pepatah dalam dunia pesantren yang sangat populer seperti ini, ‘’almuhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdu ‘alal bil jadidil ashlah’’,  yang berarti membina budaya-budaya klasik dan terus menggali budaya-budaya baru yang lebih konstruktif.

 

Menyinggung sedikit masalah ekonomi kepesantrenan, maksudnya disini adalah bagaimana pesantren itu dapat menggali ‘’potensi dalam’’ untuk perekonomiannya sehingga pesantren dapat mandiri dan dianggap memenuhi kebutuhannya dari sisi ekonomi. Seperti yang telah kita ketahui pesantren memiliki komponen-komponen penting didalamnya meliputi santri, ustadz/ustadzah (mudarris/mudarrisah), wali santri dan warga sekitar pondok pesantren. Masing-masing mempunyai daya beli yang cukup tinggi, untuk itu pesantren dapat memanfaatkan keadaan yang ada seperti ini. Dan adapun labanya bisa dijadikan tambahan pemasukan keuangan di pesantren. Dan jika beralih ke masalah kebudayaan pesantren, pesantren masih terlihat dengan gayanya yang klasik. Argumen ini didominasi untuk tipe pesantren salafiyah. Pesantren modern lebih cenderung sudah mengenal lebih jauh tentang ilmu eksak terlebih ilmu pengaetahuan dan tekhnologi.

Banyak santri mengatakan hal yang konyol untuk dicerna, mereka mengatakan bahwa pondok pesantren merupakan ‘’penjara suci’’.  Sebenarnya pondok pesantren bertujuan baik dengan segala sentuhan islaminya, tetapi seperti itulah santri yang mayoritas posisinya jauh dari orang tua dan sanak saudara. Ada saja perasaan ingin bertatap muka dan melepas rasa rindunya. Semua ini hanya didapat dari pesantren. Mungkin untuk saat-saat ini tidak akan ada rasa dan pengaruhnya, tetapi di kemudian hari akan meninggalkan bekas yang mendalam, begitu kata kebanyakan alumni pondok pesantren mengatakannya.

Dalam pandangan Kyai Zarkasyi, pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, metode pembelajaran di pesantren merupakan hal yang setiap kali mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan penemuan metode yang lebih efektif dan efesien untuk mengajarkan masing-masing cabang ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, dalam rentang waktu yang panjang pesantren secara seragam mempergunakan metode pengajaran yang telah lazim disebut dengan sorogan dan bandongan (weton).(6)

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren sangat berperan penting untuk kepribadian bangsa, dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, sains dan tekhnologi, terutama dalam perihal pembentukan karakter dan pembinaan akhlak. Disangkutpautkan dengan judul yang tertera diatas,

‘’keramahan pendidikan pesantren menjadikannya unggul’’, pondok pesantren mempunyai potensi besar pada pendidikan. Pondok pesantren sebagai lembaga tertua di Indonesia pastinya sudah tidak diragukan lagi kemahirannya dalam bidang pendidikan. Walaupun faktanya yang ada sekarang ternyata data tentang pondok pesantren terlihat minim.

Dibandingkan sekolah-sekolah negeri dan swasta, yang bertaraf minim juga dalam hal pembentukan karakter dan pembinaan  akhlak.

‘’Label santri melekat di dahimu’’

  BIODATA PENULIS

Nama                                       : Nadia Nurfitri Fathonaty

Kelas                                       : XI IPA 1

Tempat / Tanggal Lahir           : Lampung, 28 April 1994

Asal Lembaga / Institusi         : MAS.Assa’adah

Alamat Lengkap                     : Jl.Raya Banten Lama, Kp.Kelanggaran Unyur

Serang, Banten, Indones

No.Telp. / HP                          : (0254) 201438 / 085921922100

E-mail                                      : Nadya_EnEf@yahoo.co.id  Poenixdactilifera@ymail.co.id

Hobi                                        : Menulis, surving internet dan mendengarkan Musik

Motto                                      : Kerjakan semampumu !!! Do by your self !!!

([1]) Drs. Yasmadi, MA., Modernisasi Pesantren  (Jakarta : Ciputat Press, 2002), hal. 61.
([2])  Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai (Jakarta : LP3ES, 1994), hal. 18.

(3)  Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta : Raja Grafindo Persada 1996),hal.138.  

(4) http://langitan.net
(5) Amir Hamzah Wirosukarto,et.al., KH. Imam Zarkasyi dari Gontor Merintis Pesantren Modern,    (Ponorogo: Gontor Press,1996) Cet, ke-1,hal.56

(6) M.Habib Chirzin, ‘’Ilmu dan agama dalam pesantren’’, dalam M.Dawan Rahardjo, pesantren dan pembaharuan (Jakarta, LP3ES, 1988)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *