Mengenang Assyura

Oleh: Ursilawati

Kesyahidan Husein.AS Di Padang Karbala

                    Dialah Husein.as  cucu dari Rasulullah SAW, anak dari Siti Fatimah Azzahra.

Setelah kesyahidan Imam Ali AS, ayahanda tercinta. Umat islam membai’ ah Imam Hasan AS sebagai khalifah, namun Muawiyah tidak menyukai bahkan menolak tahta kepemimpinan itu  diduduki oleh Hasan. Segera mungkin Muawiyah mengumpulkan bala tentaranya untuk menyerang Imam Hasan AS. 12000 Tentara Imam Hasan yang dipimpin oleh Qays bin Sa’ad dan Ubaidillah bin Abbas meninggalkan Kufah lebih dulu untuk menuju al-Madain, barulah Hasan menyusul dengan tentaranya yang lain. Ketika Hasan menuju Madain ditemui tentara pasukannya membelot dari barisan dan bergabung dengan Muawiyah yang berhasil mengiming-imingi mereka dengan sejumlah uang. Karena tidak sedikit pasukannya yang mengikuti Muawiyah, Hasan menyerahkan urusan kekhalifahnnya kepada Muawiyah dengan syarat-syarat salah satunya,

Bahwa kekhalifahan akan dikembalikan kepada Hasan setelah Muawiyah meninggal, namun jika terjadi apa-apa dengan Hasan, maka Husein lah yang akan mengambil alih jabatan kekhalifahan.

Tapi pada nyatanya Muawiyah punya tujuan lain dibalik tahta kedudukannya tersebut, pada 28 Safar  50 Hijriyah itu Muawiyah berhasil meracuni Hasan AS. Kemudian ia melantik Yazid sebagai khalifah selepasnya.Muawiyah memaksa penduduk Madinah untuk memberi bai’ah kepada Yazid .namun ada empat tokoh yang tidak sudi membai’ah Yazid diantaranya Husein as.

Muawiyah meninggal dunia pada 60 Hijriyah.Tahta yang seharusnya diberikan kepada Husein AS itu diberikan kepada Yazid, putranya. Yazid yang sombong, dzalim,dan pemabuk itu memaksa Husein untuk memberi bai’ahnya, kalau tidak Husein akan dibunuh dan dipenggal kepalanya.

Imam Husein tetap berpegang teguh untuk tidak memberi bai’ah kepada Yazid, akhirnya beliaupun mencari perlindungan. Suasana mencekam di kota Madianatur Rasul karena ancaman Yazid atas nyawa Husein menyebabkan Huseinberfikir untuk pergi ke kota Mekkah, sebelum pergi, Husein AS. Berkunjung ke pusara datuknya ditengah malam gulita, sambil berkata :

Assalamu’ alaika ya Rasulullah! Anal Husein ibnu Fatimah.

Ana farkhuka wbnu farkhika….

“salamsejahtera kepadamu Rasulullah, aku adalah Husein putranya Fatimah. Aku adalah anakmu dan anak dari putrimu.Aku adalah cucumu yang kau tinggalkan kepada umatmu.Saksikanlah wahai nabi Allah bahwa mereka telah menghinaku dan mengabaikan hak-hakku serta tidak memeliharaku. Inilah keluhanku kepadamu hingga kelak aku berjumpa denganmu….”Kemudian Husein berdiri shalat, ruku dan sujud sepanjang malamnya disamping pusara kekasihnya Rasulullah SAW.

Menjelang subuh, Husein kemudian meletakkan kepalanya ke pusara datuknya. Di sana kemudian ia sejenak tertidur. Dalam tidur itu ia melihat datuknya datang dengan serombongan malaikat kepadanya. Dipeluknya Husein erat-erat ke dadanya.Dicium antara kedua matanya. Kemudian nabi berkata, “ wahai putraku Husein ! sepertinya sebentar lagi kau akan terbunuh dan tersembelih di sebuah tempat dan bumi karbun wa bala’, di sana kau dikepung oleh sekumpulan orang dari umatku, dalam keadan haus dan tidak diberi air minum. Tapi mereka masih mengharapkan syafaatku di hari kiamat. Demi Allah, kelak aku tidak akan member mereka syafaat di hari kiamat…”

Setelah kunjungan terakhir ke pusara RasUlullah SAW, Husain kemudian berangkat ke kota Mekkah bersama seluruh anggota keluarganya, setibanya di kota Mekkah pada tanggal 13 Sya’ban 60 H. Beliau disana selama 4 bulan, selama itu ribuan surat datang kepadanya dari arah Kufah, isi suratnya meminta agar Husein segera datang ke Kufah untuk dijadikan imam mereka dalam menumbangkan kedzaliman Yazid.

Pada tanggal 8 dzulhijjah 60 H. Husein meninggalkan kota Mekkah menuju ke Iraq, beberapa tokoh Mekkah mencoba menghalangi kepergiannya tapi Husein mengatakan “ aku berjumpa dengan datukku Muhammad SAW, katanya “ ya Husein! Keluarlah, sebab Allah telah menghendaki melihatmu terbunuh ( di jalan Allah )”

Hari kesepuluh dari bulan Muharram 61 H adalah hari yang paling menyedihkan bagi keluarga Rasul.Betapa tidak, di hari itu pasukan Husein yang berjumlah 78 orang telah dihadang oleh 30000 pasukan Yazid. Di sisi lain, air sungai Furat yang terbentang panjang dan menghidupi makhluk-makhluk padang Karbala hatta anjing sekalipun,pada hari itu diharamkan bagi putra-putri Nabi yang suci ini.

Husein berteriak dihadapan mereka “ ayyuhan nnaas! Dengarlah kata-kataku, dan lihatlah diriku juga diri kalian.Sadarlah dan perhatikan baik-baik kedudukan aku di sisi kalian.Apakah kalian boleh membunuhku dan menginjak-injak keluargaku.Bukankah aku adalah putra dari putri Nabi kalian.Orang pertama yang beriman kepada NabiNya?bukan kah Hamzah, penghulu para syuhada kelak adalah pamanku ?bukankah kalian pernah mendengar sabda Rasul tentangku dan saudarku Hasan bahwa dua putra ini adalah pemuka pemuda syurga?….

Kata-kata Husein tidak banyak mengusik perasaan  mereka yang telah beku.

“ ayyuhan nnas! Apakah masih ada orang yang mau membela kami keluarga rasul.Apakah masih ada orang yang mau menolong kami sebagai keluarga rasul?Apakah salah kami?Apakah dosa  anak-anak dan wanita kami sehingga kalian haramkan mereka dari air furat itu?

Tiba-tiba Umar bin Sa’ad melesatkan panah pertamanya kearah Husein. Disusul ribuan anak panah yang lain. Peperangan yang tidak seimbangpun berkobar.Sahabat Husein satu demi per satu maju dan gugur, disusul pula oleh kelurganya. Orang pertama adalah putranya yang bernama Ali Akbar, seorang anak remaja yang mempunyai wajah yang betul-betul mirip dengan wajah datuknya rasulullah saw.

Melihat putranya ini Husein terisak menangis .dipeluknya erat-erat. Sambil mengangkat janggutnya Husein berdoa “ ya Allah,  saksikanlah betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul dihadapan mereka seseorang yang mempunyai wajah, sifat dan kata-kata yang sangat mirip dengan Rasul-Mu. Bahkan ketika kami rindu kepada RasulMu, kami akan memandangi wajah anak ini. Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi, porak-porandakanlah mereka!”

Ali al-akbar maju ke medan perang dengan sangat tangkas sehingga mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya, Ali bin Abi Thalib. Setelah lebih dari seratus orang tewas di tangannya, ali kembali ke kemah dengan luka-luka yang parah. Dia berkata “ ya abatah, haus, haus. Rasa haus benar-benar telah mencekikku sehingga terasa benar beratnya besi ini.Adakah sedikit air yang bisa memberiku sedikit tenaga? Husein memeluknya .sebentar kemudian dia ulurkan lidahnya yang suci ke mulut anaknya yang suci. “ Demi Allah, lidah Husein sendiri lebih kering dari ranting-ranting yang kering “ Husein berkata “ sebentar lagi kau akan bertemu dengan datukmu yang tengah menunggumu dengan segelas air dari telaga kautsar.”

Ali  al-akbar kembali ke medan perang. Tiba-tiba Husein menyaksikan bagaimana anaknya ditikam oleh musuh dari berbagai arah, ada yang memukul kepalanya, menusuk dadanya, menikam perutnya, bahkanada yang melemparkan panah sehingga jatuh persis ke lehernya. Ali al-akbar berteriak “ ya abatah kusaksikan datuku Rasulullah mengucapkan salam kepadamu dan memintamu agar segera datang menemuinya….” Husein mendatangi putranya ini sambil mengibas-ibaskan  pedangnya ke setiap orang yang menghalanginya.

Kini giliran Husein, tapi sebelum itu, ia minta di bawakan bayinya Ali ar Radhi. Maksud Husein adalah ingin mencium dan memeluk sebagai pertemuan terakhirnya. Husein berteriak  “ apakah masih ada orang bertauhid yang masih takut kepada Allah. Apakah masih ada orang yang mau membela keluarga Rasulullah.???”

Tengah Husein memeluk dan ingin mengecup anak yang suci ini, tiba-tiba Harmalah melesatkan anak panahnya ke arah leher Ali ar Radhi. Demi Allah, anak panah itumenembus lehernya.pekikan suara Ali ar Radhi sangat menyayat hati,

Kini Husein benar-benar sendirian. Seluruh keluarganya gugur syahid di padang Karbala.Sekali-kali Husein melihat kemah putri-putrinya, kemudian menatap kembali ke lautan musuh.Akhirnya Husein melangkahkan kakinya dan mendatangi putri-putrinya itu, dengan suara yang tak lagi lantang dan air matanya terkuras habis. Beliau memanggil satu per satu putri dan saudara perempuannya sambil memberi salam, Sakinah yang kecil memeluk erat tubuh ayahnya, “ ya abatah, apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan pergi meninggalkan kami? Apakah ini pertanda perpisahanmu dengan kami?

Usai pamit dengan keluarga tercinta, Husein kemudian menunggangi kudanya dan bergerak tuk hadapi ribuan musuh-musuh itu, tiba-tiba Umar bin Sa’ad berteriak : “ serang dia dari  berbagai sisi.’’Dalam  keadaan letih dan haus yang amat sangat , tiba-tiba  Abul Hatuf membidikkan panahnya yang kemudian jatuh persis mengenai dahinya, dengan tangannya yang mulai lemah, Husein berupaya mencabut anak panah itu secara perlahan, seluruh wajahnya berlumuran darah,

Husein kemudian berdiri kembali, dan tiba-tiba sebuah batu besar dilemparkan dan persis mengenai lukanya. Darahnya yang suci kini membasahi tubuhnya, ia meringis kesakitan luka-lukanya itu membuatnya tak berdaya, penderitaannya belum juga berakhir, sebatang anak panah bermata tiga dibidikkan persis merobek jantungnya, sampai menembus ke belakang. Husein menundukkan kepalanya sambil memegang dada yang tak hentinya mengucurkan darah.

“ Dengan asma allah dan di atas agama Mu, engkau maha tahu bahwa mereka telah membunuh satu-satunya putra nabi mu yang masih ada di muka bumi.

Husein kemudian mencabut anak panah itu dari belakang, yang kemudian memuntahkan darah segar nan suci. Kemudian Husein menampung darahnya dan diusapakannya ke wajah, janggut, dan tubuh Husein.”Seperti inilah aku akan bertemu dengan datukku”.Melihat  Husein tergeletak lemah,Umar bin Sa’ad berteriak “turun kalian! Dan penggal lehernya…” maka turunlah sebagian makhluk-makhluk durjana itu untuk menghina Husein AS.  sebagian menusukkan pedangnya ke perut Husein, ada pula yang menyabet pedangnya ke punggung Husein. Begitu keji perlakuan mereka sampai kepada anjingpun mereka dilarang memperlakukan sedemikian, tidak puas sampai disitu, beramai-ramai mereka merampas setiap barang yang ada di tubuh Husein yang mulia, ada yang melucuti celana nya, menarik sorbanya, mengambil sandalnya, merebut pedangnnya. Yang lebih tragis lagi Bajdal bin Sulaimmengambil cincin Husein dengan memotong  jarinya karena sulit untuk di lepas.

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un………………..                                                     (Ursie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *