EKSISTENSI PESANTREN BAGI GENERASI MUDA DI ERA MASA KINI

EKSISTENSI PESANTREN BAGI GENERASI MUDA DI ERA MASA KINI

Disusun oleh : Ursilawati

(Juara 3 Lomba Essay Tingkat Nasional)

            Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berkiprah di bidang keagamaan. Dunia pesantren nyaris dipahami masyarakat sebagai dimensi statis (tidak berubah), kental dengan kefanatikan dan kemandegan (stagnasi)  bahkan pesantren disebut-sebut sebagai “penjara suci”, mengapa bisa dikatakan “ penjara suci”??, mendengar istilah penjara terlintas dalam pikiran kita yakni para Napi (Nara Pidana) yang dikurung dalam jeruji besi karena kesalahan yang mereka perbuat, dengan harapan sekeluar dari tempat itu mereka dapat jera dan berubah menjadi lebih baik khususnya dari segi moral. Tak heran memang, dahulu hingga saat ini pesantren dikaitkan dengan doktrin-doktrin islam di dalamnya, lebih kepada pembinaan moral-spiritual, akhlak, kesalehan seseorang dan pembelajaran ilmu-ilmu agama serta penyucian jiwa. Mungkin ini gambaran pesantren dalam benak sebagian orang tua sehingga mau menyekolahkan buah hati tercintanya di pesantren.

Secara etimologi pesantren dapat diartikan sebagai sebuah tempat untuk  mendalami ilmu agama. Soegarda Poerbakawatja yg dikutip oleh Haidar Putra Daulay mengatakan “ Pesantren berasal dari kata santri  yaitu  seseorang yg belajar agama Islam sehingga dengan imbuhan pe-an pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam”. Menurut Imam Zarkasyi ( pendiri pondok Darussalam Gontor)  “Pesantren adalah lembaga pendidikan islam dengan sistem asrama, dimana Kyiai menjadi pengasuh pesantren, kiprah seorang Kyai sangat esensial perannya bagi suatu pesantren([1]). Bahkan secara tegas beliau menyatakan tujuan pendidikan pesantrennya yakni untuk “kemasyarakatan dan dakwah islamiyah santri-santrinya”( 2). Berkenaan dengan santri, kata  santri terambil dari ujung kata hasan dalam bahasa arab berarti baik, dan three dalam bahasa inggris berarti tiga. Dari penggabungan kedua bahasa asing tersebut Santri bisa diartikan seorang yang baik dalam tiga hal  (iman, islam dan ihsan). ketiganya merupakan pondasi agama. Perspektif orang mengenai pesantren dan santri memang tak lepas dari sentuhan-sentuhan islam, membuatnya dipandang sebelah mata yakni lebih banyak mengurusi soal ukhrowiyah  ketimbangduniawiyah.

Kehidupan yang semakin kompleks, dunia semakin mengglobal dan peradaban yang semakin berkembang pesat, menuntut eksistensi pesantren dalam mencetak generasi muda islam yang berkompeten di segala bidang, baik terjun         di dunia politik, keekonomian, sosial, budaya, teknologi dan bidang keagamaan tentunya. Ini merupakan tantangan yang sedang dan akan terus dihadapi oleh lembaga pesantren masa kini. Dengan demikian dunia pesantren diharuskan mengadakan rekonstruksi, sebagai konsekuensi dari kemajuan dunia modern. Rekonstruksi sistem pendidikan pesantren bukan berarti merombak seluruh sistem yang ada kemudian berakibat hilangnya jati diri pesantren itu sendiri yakni lima elemen terpenting yang menjadi pilar sekaligus ruh dari pesantren  (Kyai, Santri, pondok, masjid dan kitab kuning). Al qur’an  menegaskan bahwa perubahan adalah satu keharusan dalam hidup. Kehidupan manusia tidak statis, tetapi senantiasa dinamis dan terus menerus berubah baik kearah yang lebih maju atau lebih mundur. Nabi Muhammad sendiri tidak melarang adanya perubahan yang menyesuaikan zaman, asalkan tidak keluar dari hukum-hukum agama yang  telah ditetapkan dalam hadits dan al Quran.

Saat ini pesantren pun membuktikan eksistensi nyata bagi kehidupan, melunturkan paradigma masyarakat mengenai pesantren yang klasikal dan tradisional.  Mungkin sebagian orang akan tertawa, apabila mendengar kaum ‘Santri’ bermain politik, berkecimpung dalam tatanan ekonomi bangsa, mengadakan hubungan dengan berbagai etnik dalam masalah kehidupan sosial (pluralitas), ikut mengenalkan khazanah budaya negeri ke negara-negara lain, serta menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Tapi pada nyatanya  pesantren di Indonesia dewasa ini tumbuh dan berkembang sangat pesat. Alwi Sihab menegaskan bahwa Syaih Maulana Malik Ibrahim  atau Sunan Gresik (w. 1419 H) merupakan orang pertama yang membangun pesantren sebagai tempat mendidik dan menggembleng para santri.(3)[2] Perkembangan kualitas dan kuantitas pesantren berlanjut dari masa ke masa, berdasarkan laporan pemerintah  kolonial Belanda, tahun 1831 di Jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah dengan jumlah santri tidak kurang 16.500 orang. Kemudian suatu survai yang diselenggarakan oleh kantor Shumubu (Kantor Urusan Agama) pada masa Jepang tahun 1942, jumlah pesantren bertambah menjadi 1.871 buah, jumlah tersebut belum dijumlah dengan pesantren di luar Jawa dan pesantren-pesantren kecil. Pada masa kemerdekaan jumlah pesantren terus bertambah, berdasarkan  laporan  Departemen Agama RI tahun 2001 jumlah pesantren di Indonesia mencapai  12.312 buah.(4) Pertumbuhan secara kuantitas ini tergolong begitu cepat.

Tidak jauh berbeda dengan perkembangan pesantren secara kuantitas, karena dari segi kualitas pesantren pun menampakkan era keemasanannya. Jika kita tilik dari sisi kelembagaan, sekarang ini beberapa pesantren muncul menjadi sebuah institut atau kampus yang memiliki kelengkapan fasilitas untuk membangun potensi-potensi santri tidak hanya segi akhlak, nilai intelek, spiritualitas, tapi juga atribut-atribut fisik dan material seperti munculnya pesantren-pesantren yang sudah terkemas rapi dengan peralatan-peralatan modern semisal laboratorium bahasa, laboratorium Komputer, Lab MIPA, jaringan internet dan lain sebagainya. Upaya perubahan dan pembangunan kemampuan skill santri menjadi prioritas.

Terkait dengan pembangunan dibidang  pendidikan. Amanah Undang- Undang Nasional No.20/2003 disahkan jelas-jelas memasukkan pesantren sebagai salah satu sub sistem dari sistem pendidikan nasional, sebuah perhatian dan pengakuan yang sudah selayaknya diterima komunitas pesantren. life  skills menjadi metode andalan untuk lembaga pesantren, tujuan dari penyelenggaraan kecakapan hidup (life skills) sendiri tak lain dan tak bukan hanya untuk membangun peserta didik (para santri) dalam mengembangkan kemampuan berfikir, menghilangkan kebiasaan yang kurang baik, dan mengembangkan potensi diri agar dapat memecahkan problema kehidupan secara kontruktif, inovatif, dan kreatif sehingga dapat menghadapi realita kehidupan dengan bahagia baik secara lahiriah maupun batiniah.(5)[3]Dalam praksisnyapun pesantren telah memainkan peran penting sebagai agen nasional  dalam mencetak generasi muda yang intelek. Ranah pesantren diantaranya dengan pemantapan bahasa, tidak saja bahasa arab yang menjadi prasyarat mutlaq selaku bahasa al Quran, melainkan juga bahasa Indonesia dan tentu saja bahasa inggris. Bahasa Indonesia menjadi penting karena dengan bahasa Indonesia para santri dapat mengkomunikasikan gagasannya ditingkat lokal, regional, dan nasional. Sedangkan bahasa inggris sebagai bahasa internasional penting digeluti agar para santri dapat menkomunikasikan gagasannya hingga melintasi batas cakrawala. Disamping menimba ilmu dari wilayah yang berbeda dengan modal bahasa inilah pesantren masa depan bisa kian melebarkan kerjasamanya. Tidak saja pada tingkat regional, nasional akan tetapi juga pada tingkat internasional. Bahkan dengan program Departemen Agama (Depag) yang menawarkan beasiswa sekolah gratis S1, S2, juga S3 ke berbagai Negara khususnya Negara bagian timur tengah  seperti Mesir, Turkey, Yaman, Madinah, Riyadh dan banyak lagi. Hal ini menjadi catatan  pembuktian skill para santri yang mengglobe. Tidak sedikit out put pesantren yang mendapatkan beasiswa tersebut bahkan  sehabis menyelesaikan studynya dengan modal ilmu yang ada, banyak dari mereka yang sukses di ranah pendidikan, menduduki posisi penting di instansi-instansi pendidikan tertentu bahkan mampu mendirikan pesantren lalu mengelolanya sendiri. Tidak dapat dipungkiri lahirnya berbagai pendidikan modern tidak bisa dilepaskan dari pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sudah mengurat nadi di negeri ini.

Selain dalam ranah pendidikan,  pesantren  berperan penting terhadap perubahan dan rekayasa sosial, bertanggung jawab atas berbagai fenomena sosial yang berkembang dan berdampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia. ditanamkan dalam setiap diri santri yakni jiwa kebersamaan. Bahkan semboyan yang sering diucapkan adalah “ satu untuk bersama, dan bersama untuk satu” hangatnya kebersamaan menjadi kekuatan tersendiri sehingga menciptakan kecerdasan emosional dan kepribadian yang indah dalam diri mereka. Bayangkan saja beratus-ratus santri di suatu pesantren datang dari berbagai daerah yang berbeda, tentunya dengan karakter yang berbeda pula. Disinilah letak pembelajaran sosial yang mungkin tidak bisa didapatkan di lembaga pendidikan umum, untuk dapat bersosialisasi dengan baik santri dituntut  memahami berbagai macam karakter dan dapat memposisikan dirinya pada satu karakter tertentu, belajar menghargai serta menghormati sesama. Praktisi seperti ini diakui atau tidak diakui sangat berguna ketika  terjun di dunia masyarakat nanti. Kita bisa melihat peran ormas NU, Muhamadiyah beserta perangkat dan badan-badan otonomnya yang banyak mengusung agenda reformasi. Begitu juga bermunculannya lembaga swadaya masyarakat (LSM) banyak yang dimotori oleh kaum santri, baik LSM yang konsentrasi di bantuan hukum, lingkungan hidup, kerukunan umat beragama, ekonomi maupun yang bergerak di bidang sosial budaya. Juga dalam kencah politik, kaum santri tidak lagi menjadi obyek dari kepentingan sesaat politisi dan partai politik, akan tetapi dinamika perpolitikan Indonesia diwarnai pula oleh politisi santri yang tidak lagi malu dengan identitas kesantriannya, sehingga munculnya partai-partai politik yang personilnya dari kaum santri seperti PKB, PKU, PNU, PBR, dan PKNU yang baru-baru ini dideklarasikan oleh beberapa ulama sepuh NU.

Menoleh pada  peran pesantren yang menduduki tempat istimewa dalam khazanah perkembangan sosial budaya, tak khayal perspektif historis memposisikan pesantren sebagai subkultur disampaikan oleh Abdurrahman Wahid , beliau seorang santri yang menjadi tokoh besar bangsa Indonesia, menurutnya “ lima ribu buah pondok  pesantren yang tersebar di enam puluh delapan ribu desa merupakan bukti tersendiri untuk menyatakan pesantren sebagai subkultur.(6)[4]Terkait dengan budaya Indonesia sendiri yang ketimur-timuran dan selaku Negara islam terbesar di dunia, sensus penduduk  pada tahun 2010 mencatat, kira-kira 85,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah muslim, 9,2% Protestan, 3,5% Katolik, 1,8% Hindu, dan 0,4% Budha,(7)[5]dari sekian banyak kaum muslim Indonesia mereka adalah kaum santri. Persentasi yang membanggakan tersebut mempercepat segala aspek perkembangan pesantren diantaranya dalam seni dan budaya, dikenali oleh masyarakat bahwasanya seni dan budaya asli Indonesia turut ditrendkan di pesantren dan melahirkan output berjiwa seni seperti  Asep Zamzam Noor (penyair asal pesantren Cipasung), atau KH. Musthafa Bisri (budayawan asal pesantren Rembang), dimana kreasi dan inovasi mereka sangat mempengaruhi atmosfir seni dan budaya di Nusantara. Konstribusi positif pesantren ini disangkutpautkan pada celah-celah globalisasi, ikut andil dalam perang budaya dunia yang belakangan ini menjadi momok mengkhawatirkan semua lapisan masyarakat. Belahan bumi bagian barat berupaya sekuat tenaga untuk membuat bumi berpijak pada nilai-nilai budayanya dan secara perlahan mengikis budaya asli Indonesia. Untuk itu pesantren dipersiapkan sebagai kuda-kuda pertahanan budaya Indonesia yang baik, serta tameng datangnya budaya asing yang tidak baik. Masuknya budaya asing saat ini takan lepas dari perkembangan teknologi yang melejit, kemajuan IPTEK sebagai suatu efek dari kemodernsasian dunia. namun perkembangan teknologi bukan berarti harus ditinggalkan atau kita mengisolir diri. Sebab hampir semua teknologi memberi manfaat besar pada kehidupan dunia, untuk itu santri yang akan menjadi komunitas i secara tepat guna. Teknologi akan terus berkembang, jika bukan kita yang mengembangkannya, maka bangsa lain akan terus mengulik melakukan penelitian untuk mengembangkan IPTEK tersebut. Tantangan zaman tersebut dijawab oleh sebagian besar pesantren dengan melengkapi fasilitas-fasilitas penunjang terutama yang berkaitan dengan ilmu sains dan teknologi.

Pesantren pula mendidik santrinya menjadi output yang mandiri dalam masyarakat biasanya  dengan menonjolkan kewirausahaannya. Sudah banyak lembaga-lembaga pesantren yang membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu berwirausaha (enterpreuneurship).  Seperti salah satu lembaga di pondok pesantren salafiyah Sidogiri, Pasuaran, Jawa Timur. Pesantren ini memiliki koperasi pondok pesantren terbaik secara nasional.(8) [6] Prestasi ini tentunya memberi dampak kultural kepada para santri, yakni membangun etos kerja yang tinggi, percaya diri, jujur dalam berusaha , berani menanggung resiko dan lain sebagainya. Hal yang miris, kalau kita tengok perkembangan ekonomi dunia yang masih belum stabil pertumbuhannya hingga saat ini, ternyata sistem perekonomian yang berbasiskan Islam (syariah), lebih eksis dan bahkan semakin menjulang tinggi pertumbuhannya. Ini menandakan sistem perekonomian Islam (syari’ah), merupakan sistem yang sangat efektif apabila digunakan untuk tatanan perekonomian bangsa. Dengan banyak didirikannya bank-bank syariat diharapkan tegaknya pula perekonomian yang jujur dan sehat.

Akhirnya  kita dapat mengambil kesimpulan bahwa “eksistensi pesantren bagi generasi muda saat ini” banyak memberikan sumbangsih positif bagi kemajuan bangsa di segala bidang, dengan tidak menghapuskan pandangan pesantren sebagai lembaga keagamaan yang mencetak penerus bangsa berakhlakul kharimah. Rekonstruksi pesantrenpun masih harus terus di kembangkan dengan senantiasa dipilari syiar-syiar agama agar tidak membelok dari jalan Tuhan yang benar, dan juga santri akan tetap menjadi penyebar panji-panji islam pada setiap fikrah.

 

“Banggalah karena kamu Seorang Santri…. !!!!”

 

 

Daftar Pustaka

 

El-Saha, Muhammad Ishom. 2008. The Power of Santri’s Civilization. Jawa Barat :

Pustaka Mutiara.

 

Fatah, Rohadi Abdul dkk. 2008. Rekonstruksi Pesantren Masa Depan, Jakarta :

PT. Lisatafariska Putra.

 

Haedari, M Amin. 2006. Masa Depan Pesantren  Dalam Tantangan Modernitas dan

 Tantangan Komplesitas Global, Jakarta : IRD press.

 

Masyud ,M Sulthon. 2008. Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta : Diva Pustaka

Jakarta.

 

Wirosukarto, Amir Hamzah, et.al. 1996. KH. Imam Zarkasyi dari Gontor Merintis

 Pesantren Moder. Ponorogo :  Gontor Press.

 

Yuppi, Mu. 2008. Manajemen Pengembangan Pondok Pesantren. Jakarta : Media

Nusantara.

 

Zada, Khamami dkk. 2006. Intelektualisme Pesantren. Jakarta : Diva Pustaka

 

Agama di Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia

( akses 12 Mei 2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *